andongonline.com | Dalam era kekinian, kampanye pemilu telah melangkah lebih jauh ke dalam ranah digital, menciptakan satu Indonesia yang terhubung secara daring. Namun, di balik gemerlapnya, ada sisi gelap yang tak terelakkan. Propaganda tidak lagi hanya berkembang melalui mulut ke mulut, tetapi telah menjalar dengan cepat melalui aliran informasi digital, dimulai dari hoaks dan misinformasi.
Hoaks dan misinformasi bukan hanya sekadar alat untuk meraih fakta dan data. Mereka telah menjadi senjata ampuh bagi calon presiden saat ini untuk memenangkan pikiran, meskipun belum tentu mencapai hati masyarakat Indonesia. Lebih-lebih dalam konteks pendidikan rendah yang merajalela, menciptakan atmosfer anarkis di tengah masyarakat.
Keputusan politik, sejatinya, memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pendidikan, apakah rendah atau tinggi. Pendidikan rendah cenderung menghasilkan pemikiran irasional, sementara pendidikan tinggi membentuk pikiran yang lebih rasional dan logis. Oleh karena itu, untuk menaklukkan hati masyarakat, emosi harus dijadikan senjata utama.
Dalam menghadapi pemilu 2024, emosi seperti kemarahan, kebencian, dan ketakutan memegang peran kunci. Terlebih lagi, ketidakpuasan terhadap sistem pendidikan yang rendah mendorong masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi konten negatif, mencari drama dalam politik. Para calon presiden harus pandai mengelola ketiga emosi negatif ini untuk memenangkan simpati dan dukungan.
Namun, perjalanan politik bukan sekadar menguasai emosi negatif. Untuk membawa Indonesia menuju kemajuan, kita tidak boleh mengabaikan permasalahan yang masih melanda. Hoaks menjadi ancaman serius, dengan lebih dari 100 triliun uang beredar untuk menyebarkan informasi.
Pentingnya memilah dan memastikan kebenaran informasi dalam pemilu tidak bisa dianggap sepele. Hoaks bukan hanya sekadar menggelincirkan masyarakat ke dalam ketidaktahuan, tetapi juga bisa mempengaruhi perubahan ideologi dan keputusan pemilih.
Bagaimana kita bisa melindungi diri dari serbuan hoaks ini? Pertanyaan ini mengarah pada perlunya berpikir kritis. Keputusan yang diambil harus didasarkan pada data dan fakta, bukan hanya mengikuti kata hati semata. Selalu pastikan bahwa informasi yang diterima benar-benar sesuai dengan fakta dan data yang ada.
Pemilu bukanlah ajang pertikaian, melainkan panggung untuk mempersatukan bangsa. Untuk itu, kita perlu mengambil inisiatif membaca dari sumber resmi, mengevaluasi visi, misi, dan kebijakan calon secara obyektif. Jangan terjebak pada potongan video atau narasi yang hanya mencerminkan sudut pandang satu pendukung. Memahami kebenaran adalah kunci agar pemilu kali ini menjadi ajang yang fair, mempersatukan Indonesia demi kemajuan bersama.
Penulis: Aulia Azzahrah